Penanganan Kasus Terhadap Sisawa yang Mengalami Masalah Sosial


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelaksanaan bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah Atas, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya aturan baku (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut penanganan kasus. Penanganan kasus merupakan bentuk nyata dari pelakasanaan bimbingan konseling di Sekolah. Selain itu, hal yang juga penting adalah upaya memfasilitasi siswa, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya. Tugas perkembangan itu menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual.
Siswa sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian mereka selalu melakukan interaksi sosial. Untuk mencapai kematangan tersebut, siswa memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungan sosialnya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan siswa tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.
Perkembangan siswa tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku siswa, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi, sosial atau penyimpangan perilaku.
Pelayanan bimbingan sangat diperlukan agar potensi yang dimiliki oleh peserta didik dapat dikembangkan secara optimal. Program bimbingan diarahkan untuk dapat menjaga terjadinya keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional dan sosial.
Selain itu program bimbingan diharapkan dapat mencegah dan mengatasi potensi-potensi negatif yang dapat terjadi dalam proses pembelajaran pada SKM/SSN. Potensi negatif tersebut misalnya peserta didik akan mudah frustasi karena adanya tekanan dan tuntutan untuk berprestasi, peserta didik menjadi terasing atau agresif terhadap orang lain karena sedikit kesempatan untuk membentuk persahabatan pada masanya, ataupun kegelisahan akibat harus menentukan keputusan karir lebih dini dari biasanya.
Layanan bimbingan diperlukan siswa untuk memenuhi kebutuhan individual anak baik secara psikologis maupun untuk mengembangkan kecakapan sosial agar dapat berkembang optimal. Hal ini senada dengan pendapat Leta Hollingworth yang dikutip Wahab pada tahun 2004 yang mengindikasikan bahwa “gifted children do have social/emotional needs meriting attention”. Ditegaskan bahwa betapa pentingnya persoalan kebutuhan sosial/emosional anak berbakat memerlukan perhatian orang dewasa di sekitarnya, karena boleh jadi kondisi demikian akan berpengaruh kepada kinerja dan aktivitas anak dalam belajarnya.
Untuk itu, guru pembimbing sangat berperan dalam perkembangan siswa terutama dalam proses pergaulan, yang mana hubungan sosial sangat berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Misalnya ada siswa yang tergolong pintar, tetapi tidak mempunyai teman seumurannya akibat dari ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 12 Pekanbaru merupakan salah satu sekolah yang mempunyai empat orang guru pembimbing yang bertugas membantu siswa mengatasi masalahnya, baik masalah belajar, pribadi, karir, dan sosial. Banyak kasus yang dialami oleh siswa SMA Negeri 12 Pekanbaru, diantaranya perkelahian antar siswa, persaingan tidak sehat antar geng, pengucilan.
Dari studi pendahuluan yang penulis lakukan pada Desember 2010, yaitu melalui sosiometri sebagai tolak ukur seberapa jauh seorang siswa dalam bersosial dengan teman-teman sekelasnya yang kemudian didukung dengan wawancara terhadap guru pembimbing di SMA Negeri 12 Pekanbaru penulis menemukan tiga (3) orang siswa yang mengalami masalah sosial, dan melalui observasi secara langsung mereka menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
1. Ada siswa sendiri dan menjauh dari kelompok teman sebayanya.
2. Diantara mereka ada yang menjadi bahan olok-olokkan teman sebayanya.
3. Ada siswa yang dikucilkan teman
4. Ada siswa yang kurang pandai dalam berkomunikasi
5. Diantara mereka, saat jam istrahat lebih sering berada di kelas padahal teman-teman sekelasnya ke kantin.
6. Ada siswa yang suka mengganggu temannya.
Berdasarkan gejala-gejala di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penanganan Kasus Terhadap Siswa yang Mengalami Masalah Sosial”.

B. Penegasan Istilah
1. Penanganan adalah suatu proses yang dikerjakan secara intensif dalam menyelesaikan sebuah permasalahan oleh orang yang ahli.
2. Kasus adalah kesatuan kondisi yang di dalamnya terkandung satu atau sejumlah masalah yang dialami oleh seorang individu (atau kelompok, keluarga, lembaga).
3. Masalah Sosial suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok social atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan social.
C. Permasalahan
1. Identifikasi masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diambil identifikasi masalah sebagai berikut:
a. Masalah sosial yang dialami oleh siswa di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
b. Faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
c. Upaya yang dilakukan guru pembimbing dalam mengatasi siswa yang mengalami masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
d. Faktor yang mempengaruhi guru pembimbing dalam mengatasi masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
e. Peran Kepala Sekolah dan Guru-Guru lain dalam mengatasi masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
f. Cara penanganan kasus yang dilakukan oleh guru pembimbing di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
2. Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan yang ditangani guru pembimbing dalam menangani kasus siswa yang mengalami masalah sosial, maka penulis membatasi masalah sosial apa saja yang dialami oleh siswa di SMA Negeri 12 Pekanbaru dan apa faktor penyebab dari masalah tersebut serta bagaimana cara penanganan kasus yang dilakukan oleh Guru Pembimbing di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa saja masalah sosial yang dialami siswa di SMA Negeri 12 Pekanbaru?
2. Apa faktor yang menyebabkan terjadinya masalah sosial tersebut?
3. Bagaimana cara penanganan kasus yang dilakukan guru pembimbing dalam mengatasi siswa yang mengalami masalah sosial di SMA Neri 12 Pekanbaru?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apa saja masalah sosial yang dialami siswa di SMA Negeri 12 Pekanbaru
b. Untuk mengetahui factor yang menyebabkan terjadinya masalah sosial tersebut.
c. Untuk mengetahui cara penanganan kasus yang dilakukan guru pembimbing dalam mengatasi siswa yang mengalami masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru.
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan berguna bagi beberapa pihak yang terkait, antara lain:
a. Untuk menambah pengetahuan dan cara berfikir penulis dalam bidang penelitian.
b. Sebagai pengetahuan dan wawasan baru bagi guru pembimbing dalam meningkatkan profesionalitasnya sehingga, bila guru pembimbing menemukan kasus seperti ini dengan mudah mengatasinya.
c. Bagi siswa yang mengalami masalah sosial, akan dapat keluar dari masalahnya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Masalah Sosial
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kelompok social atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok anggota kelompok social tersebut sehingga terjadi kepincangan sosial. Dalam perkembangan individu dengan individu lain tidak selamanya berjalan mulus dan lancar, tapi ada kalanya terjadi kesenjangan dan perbenturan antara satu kepentingan dengan kepentingan lainnya. Keadaan ini dapat teraktualisasi lewat cara beradaptasi, cara berkomunikasi dan cara bertingkah laku.
Siswa sebagai individu akan menghadapi berbagai masalah tentunya antara satu dengan yang lainnya. Konsekuensinya siswa akan memperoleh jenis bimbingan yang berbeda pula sesuai dengan jenis permasalahan yang dihadapinya. Masalah sosial yang dihadapi siswa antara lain masalah hubungan dengan teman sebaya, hubungan dengan orang tua dan guru, hubungan dengan lingkungan bermacam-macam serta masalah dalam komunikasi.
a. Penyesuaian Diri
Secara umum kita dapat melihat bahwa masalah sosial juga menyangkut masalah penyesuaian diri dengan berbagai lingkungan, baik lingkunagn sekolah, keluarga dan masyarakat.
Penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya, sehingga Ia merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungan. Penyesuaian diri merupakan hal yang sangat penting untuk dapat memenuhi kebutuhan individu dengan segala macam kemungkinan yang ada dalam lingkungan tersebut.
Schneider berpendapat bahwa penyesuaian adalah proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses, serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana Dia hidup.
Proses penyesuaian diri dapat menimbulkan berbagai masalah terutama masalah sosial yang terjadi pada diri individu itu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungan tanpa gangguan dan kerugian bagi lingkungannya dinamakan well adjusted. Dan jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri disebut maladjusted atau salah suai.
Selanjutnya dia menjelaskan ciri-ciri orang yang well adjusted, yaitu yang mampu merespon (kebutuhan dan masalahnya) secara matang, efisien, puas dan sehat (wholesome). Yang dimaksud dengan efisien adalah hasil yang diperolehnya tidak banyak membuang energi, waktu, atau kekeliruan. Sementara wholesome adalah respon individu itu sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, hubungan dengan orang lain, dan hubungan dengan tuhan.
Orang yang memiliki sikap iri hati, hasad, cemburu atau bermusuhan merupakan respon yang tidak sehat. Sedangkan sikap persahabatan, toleransi dan member pertolongan merupakan respon yang sehat.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang sehat, yang normal, yang baik apabila Ia mampu memenuhi dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan dirinya dan lingkungannya. Penyesuaian diri yagn normal mempunyai karakteristik seperti:
1. Absence of excessive emotionality, terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, merugikan atau kurang mampu mengontrol diri.
2. Absence of psychological mechanism, terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologi, seperti rasionalisasi, agresi, kompensasi dan lainnya.
3. Absence of the sence of personal frustration, terhindar dari perasaan prustasi atau perasaan kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhannya.
4. Rational deliberation and self-direction, memiliki pertimbangan dan penghargaan diri yagn rasional, yaitu mampu menyelesaikan masalah berdasarkan alternative-alternatif yang telah dipertimbangkan secara matang dan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambil.
5. Ability to learn, mampu belajar, mampu mengembangkan kualitas dirinya, khususnya yang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah sehari-hari.
6. Utilization of past experience, mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu, bercermin ke masa lalu baik yang berkaitan dengan keberhasilan maupun kegagalan untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik.
7. Realistic, objective attitude, bersikap objektif dan realistic, mampu menerima kenyataan hidup yang dihadapi secara wajar, mampu menghindari, merespon situasi atau masalah secara rasional, tidak didasarkan oleh prasangka negatif.
b. Penyesuaian diri di sekolah
Pertama, penyesuaian diri murid terhadap guru banyak bergantung kepada sikap guru dalam mengahadapi murid-muridnya. Guru yang banyak memahami tentang perbedaan individual murid akan lebih mudah mengadakan pendekatan terhadap berbagai masalah yang dihadapi muridnya. Berarti seorang guru hendaklah memperdalam ilmunya tentang psikologi dan ilmu mendidik, terutama psikologi remaja dalam menghadapi anak remaja. Yang paling bagus lagi ketika seorang guru bersahabat dengan muridnya. Dengan begitu, guru akan banyak memperoleh informasi tentang keluhan muridnya, keinginan mereka dan kesulitan-kesulitannya.
Kedua, penyesuaian diri terhadap mata pelajaran. Dalam hal ini hendaknya kurikulum disesuaikan dengan umur, tingkat kecerdasan, dan kebutuhan. Dengan begitu anak akan mudah menyesuaikan dirinya terhadap mata pelajaran yang diberikan kepadanya. Tetapi hal ini juga banyak bergantung kepada gurunya, yaitu kemampuan guru menggunakan metode mengajar yang tepat.
Ketiga, penyesuaian diri terhadap teman sebaya. Hal ini amat penting bagi perkembangan murid, terutama perkembangan sosial. Teman sebaya ialah kelompok anak-anakyang hamper sama umur, kelas dan motivasinya bergaul. Kelompok ini juga dinamakan peer group. Kelompok teman sebaya dapat membantu penyesuaian diri yang baik bagi anak. Terutama anak yang manja, egois dan sombong. Apabila masuk dalam kelompok teman sebaya lama-kelamaan akan dapat mengubah sikapnya menjadi anak yang sosial, karena di dalam pergaulan dengan teman sebaya Ia akan dikritik jika mempunyai sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai atau norma-norma kelompok. Jika masih juga belum berubah, besar kemungkinan akan dimusuhi oleh kelompok atau dipencilkan. Jika sampai terjadi yang demikian itu, bagi anak yang bersangkutan tidak akan dipertahankan, dan akhirnya aia terpaksa merubah sikapnya menjadi sikap sosial, suka berteman, toleran dan sebagainya.
c. Penyesuaian Diri yang Menyimpang
Menurut Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, penyesuaian diri yang menyimpang atau tidak normal merupakan proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemcahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Dapat juga dikatakan bahwa penyesuaian diri yang menyimpang ini adalah sebagai tingkah laku abnormal, terutama terkait dengan kriteria sosiopsikologis dan agama, hal ini ditandai dengan respon-respon sebagai berikut:
1. Reaksi Bertahan.
Individu dikepung oleh tuntutan-tuntutan dari dalam diri sendiri dan dari luar kadang-kadang mengancam rasa aman egonya. Untuk melindungi rasa aman egonya, individu mereaksi dengan mekanisme pertahanan diri.
Mekanisme pertahanan dapat diartikan sebagai respon yang tidak disadari yang berkembang dalam kepribadian individu, dan menjadi menetap, sebab dapat mereduksi ketegangan dan frustasi, dan dapat memuaskan tuntutan-tuntutan penyesuaian diri.
Mekanisme bertahan diri muncul dilatarbelakangi oleh dasar-dasar psikologis, salah satunya seperti inferiority, inadequacy, failure dan guilt. Inferior ini menimbulkan gejala-gejala seperti peka, sangat senang dengan pujian, senang mengkritik atau mencela orang lain, kurang senang untuk berkompetisi, cenderung senang menyendiri, pemalu dan penakut. Berkembangnya sikap inferioritas ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: kondisi fisik (lemah kerdil, cacat, tidak berfungsi atau wajah yang tidak menarik), psikologis (kecerdasan dibawah rata-rata, konsep diri yang negatif, frustasi) dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif (hubungan interpersonal dalam keluarga tidak harmonis, kemiskinan dan perlakuan keras dari orang tua).
Perasaan tidak mampu (inaquadicy) merupakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari lingkungan yang penyebabnya juga sama dengan inferioritas: frustasi dan konsep diri yang tidak sehat.
Perasaan gagal sangat dekat hubungan dengan perasaan inadequacy, karena jika seseorang sudah merasa bahwa dirinya tidak mampu, maka dia cenderung mengalami kegagalan untuk melakukan sesuatu atau mengatasi masalah yang dihadapinya. Sedangkan perasaan bersalah muncul setelah seseorang melakukan perbuatan yang melanggar aturan moral, atau sesuatu yang dianggap berdosa.
Mekanisme pertahanan diri memiliki beberapa bentuk yaitu kompensasi, sublimasi, rasionalisasi, sour grape, egosentrisme dan superioritas, introjeksi dan identifikasi, proyeksi dan sikap mencela, represi.
2. Reaksi menyerang atau agresi
Merupakan bentuk respon untuk mereduksi ketegangan atau frustasi melalui media tingkah laku yang merusak, berkuasa atau mendominasi. Agresi ini terefleksi dalam tingkah laku verbal dan nonverbal. Contoh yang verbal ialah berkata kasar, bertengkar, panggilan nama yang jelek, kritik yang tajam. Sementara contoh nonverbal adalah menolak atau melanggar peraturan, memberontak, berkelahi dan mendominasi orang lain. Agresi ini timbul dilatarbelakangi oleh faktor fisik, psikis dan sosial.
Lebih lanjut dikemukakan gejala-gejala perilaku sikap agresif yang dikemukakan oleh M. Surya, yaitu sebagai berikut:
a. Selalu membenarkan diri sendiri
b. Mau berkuasa dalam setiap situasi
c. Mau memiliki segalanya
d. Bersikap senang mengganggu orang lain
e. Menggertak, baik dengan ucapan maupun perbuatan
f. Menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka
g. Menunjukkan sikap menyerang dan merusak
h. Keras kepala
i. Bersikap balas dendam
j. Memperkosa hak orang lain
k. Bertindak serampangan
l. Marah secara sadis.
3. Reaksi melarikan diri dari kenyataan (escape).
Bentuk reaksi ini seperti berfantasi, melamun, minum-minum keras, bunuh diri, menjadi pecandu narkoba dan regresi. Reaksi ini disebabkan oleh factor psikologis dan lingkungan keluarga.

4. Penyesuaian yang patologis
Penyesuaian ini berarti bahwa individu yang mengalaminya perlu mendapat perawatan khusus, dan bersifat klinis, bahkan perlu perawatan di rumah sakit. Gejala-gejala salah suai ini akan dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku. Kalau gejala ini dibiarka tentu akan mengganggu baik bagi individu sendiri maupun bagi lingkungan.

2. Penanganan Kasus
a. Pengertian Penanganan Kasus
Menurut Prayitno, penanganan kasus pada umumnya dapat dilihat sebagai keseluruhan perhatian dan tindakan seseorang terhadap kasus (yang dialami oleh seseorang) yang dihadapkan kepadanya sejak awal sampai dengan diakhirinya perhatian dan tindakan tersebut. Dalam pengertian itu penanganan kasus meliputi:
1) Pengenalan awal tentang kasus, yang dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan.
2) Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu
3) Penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut, dan akhirnya;
4) Mengusahakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan sumber pokok permasalahan itu.
Lebih lanjut Prayitno mengungkapkan, dilihat lebih khusus, penanganan kasus dapat dipandang sebagai upaya-upaya khusus untuk secara langsung menangani sumber pokok permasalahan dengan tujuan utama teratasinya atau terpecahkannya permasalahan yang dimaksudkan.
Dengan demikian, penanganan kasus dalam pengertian yang khusus menghendaki strategi dan teknik-teknik yang sifatnya khas sesuai dengan pokok permasalahan yang ditangani itu. Setiap permasalahan pokok biasanya memerlukan strategi dan teknik tersendiri. Untuk itu diperlukan keahlian konselor dalam menjelajahi masalah, penetapan masalah pokok yang menjadi sumber permasalahan secara umum, pemilihan strategi dan teknik penanganan atau pemecahan masalah pokok itu, serta penerapan pelaksanaan strategi dan teknik yang dipilihnya itu.
b. Langkah-langkah Penanganan Kasus
Sebagai gambaran umum, menurut Prayitno keterkaitan antara permasalahan awal, konsep/ide-ide tentang rincian, kemungkinan sebab dan akibat, serta penanganan masalah secara khusus. Kita bisa membayangkan berbagai permasalahan yang dapat dikenali pada mulanya melalui:
1) Deskripsi awal kasus
2) Ide-ide tentang rincian permasalahan, kemungkinan sebab dan kemungkinan akibat,
3) Upaya dan hasil penjelajahan lebih lanjut terhadap setiap permasalahan yang terkandung pada kasus yang dimaksud, dan
4) Upaya penanganan secara khusus terhadap permasalahan pokok yang menjadi sumber permasalahan pada umumnya.
Dalam bimbingan dan konseling studi kasus diselenggarakan melalui cara-cara yang bervariasi, seperti analisis terhadap laporan sesaat (Anecdotal report), otobiografi atau cerita tentang anak atau klien yang dimaksud, deskripsi tentang tingkah laku, perkembangan anak atau klien dari waktu ke waktu (case history), himpunan data (cummulative records), konfrensi kasus (case conference).
Penanganan kasus baik secara umum maupun khusus, tidak mudah. Berbagai pihak dan sumber daya sering kali perlu diaktifkan dan dipadukan demi teratasinya permasalahan yang dialami oleh seseorang. Apabila Guru Pembimbing berhasil sebesar-besarnya mengarahkan berbagai pihak dan sumber daya itu, keberhasilan penanangan kasus akan lebih dijamin . pihak yang paling utama harus dilibatkan secara langsung ialah orang yang mengalami masalah itu sendiri. Orang itu perlu secara aktif berpartisipasi dalam mendeskripsikan masalah-masalahnya, dalam penjelajahan masalah-masalah itu lebih lanjut, dan dalam pelaksanaan strategi serta teknik-teknik khusus penanganan atau pemecahan masalah. Tanpa partisipasi langsung dan aktif orang yang mengalami masalah, keberhasilan upaya bimbingan dan konseling amat diragukan, atau bahkan boleh jadi akan nihil sama sekali. Pihak lain dalam urutan kedua yang perlu dilibatkan, kalau dapat secara langsung, ialah orang-orang yang amat besar pengaruhnya kepada orang yang mengalami masalah itu, seperti orang tua, guru, serta orang lain yang amat dekat hubungannya.
Orang-orang yang sangat berpengaruh biasanya memiliki sumber daya yang sebesar-besarnya dapat dimanfaatkan dalam penanganan masalah itu. Selanjutnya, pihak-pihak dan sumber daya lain yang perlu dikerahkan ialah berbagai unsur yang terdapat dilingkungan orang yang mengalami masalah, baik lingkungan sosial, fisik maupun lingkungan budaya. Termasuk kedalam kategori ini adalah para ahli bidang-bidang tertentu, seperti psikiater, dokter, ahli hukum dan lain-lain yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang ditangani. Adalah merupakan seni dan kiat tersendiri bagi konselor untuk mampu mengarahkan dan memadukan berbagai pihak, sumber dan unsur itu demi pemecahan masalah dan penanganan kasus yang sedang dihadapkan kepadanya. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengarahan berbagai pihak dan sumber serta unsur itu ialah:
1) Perlibatan pihak-pihak, sumber dan unsur-unsur lain di luar diri orang yang mengalami masalah:
a. Harus sepengetahuan dan seizin orang yang mengalami masalah itu;
b. Bersifat suka rela dan tidak menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak, sumber dan unsur-unsur lain yang dilibatkan itu.
2) Pihak-pihak, sumber dan unsur-unsur yang akan dilibatkan dan akan dipilih secara seksama:
a. Agar dapat bermanfaat secara efektif dan efisien
b. Agar dapat disinkronisasi, dipantau atau dikontrol
c. Sesuai dengan asas-asas bimbingan dan konseling.
3) Peranan masing-masing pihak, sumber dan unsur yang dilibatkan hendaknya dijelaskan secara rinci bagi pihak, sumber, unsur yang dilibatkan itu, maupun bagi orang yang mengalami masalah sosial itu sendiri.
Berikut dikemukakan gambaran tentang keterlibatan konselor secara menyeluruh dalam menangani kasus yang dihadapkan kepadanya. Gambaran tersebut meliputi perhatian dan tindakan yang menyeluruh dari awal sampai akhir, maupun langkah-langkah khusus tertentu sepanjang keterlibatan konselor, sebagaimana telah dikemukakan di atas.

1. Penanganan kasus dalam arti umum
2. Pengenalan awal terhadap kasus
3. Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah, kemungkinan sebab dan akibat
4. Penjelajahan kasus (lebih lanjut)
5. Penanganan kasus dalam arti khusus
6. Penyikapan terhadap kasus.
3. Peran Guru Pembimbing dalam mengatasi Masalah Sosial Siswa di SMA Negeri 12 Pekanbaru
Dalam menjalankan tugasnya, guru pembimbing harus mengacu kepada BK pola 17 plus karena guru pembimbing sebagai sosok dalam penentu berhasil atau tidaknya proses konseling itu. Adapun BK pola 17 plus itu terdiri atas 6 jenis bidang bimbingan: bimbingan pribadi, belajar, sosial, karir, berkeluarga, beragama. Dan 9 jenis layanan: layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi, mediasi. Serta 5 kegiatan pendukung: aplikasi instrumentasi, himpunan data, konfrensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus.
Sebagai pejabat fungsional, guru pembimbing dituntut melaksanakan berbagai tugas pokok fungsionalnya secara professional, adapun tugas pokok guru pembimbing menurut SK Menpan No. 84/1993 ada lima yaitu: menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan program, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Undang diatas menjelaskan salah satu tugas guru pembimbing dalam menjalankan tugasnya. Dalam masalah sosial, guru pembimbing sangat dibutuhkan dalam menangani masalah ini. Dengan cara mendiagnosis masalah sosial siswa, diagnosis dilakukan dalam rangka memberikan solusi terhadap siswa yang mengalami masalah sosial.
Untuk mendapatkan solusi secara tepat atas permasalahan sosialnya, guru harus terlebih dahulu melakukan identifikasi dalam upaya mengenali gejala-gejala secara cermat terhadap fenomena-fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya permasalahan sosial yang melanda siswa. Diagnosis dilakukan untuk mengetahui dan menetapkan jenis masalah yang dihadapi klien lalu menentukan jenis bimbingan yang akan diberikan, dalam melakukan diagnostik masalah sosial siswa perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Kenalilah peserta didik yang mengalami masalah sosial
Dalam mengenali peserta didik yang mengalami masalah sosial, cara yang paling mudah adalah dengan melaksanakan sosiometri. Sosiometri merupakan suatu metode untuk mengumpulkan data terntang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam suatu kelompok. Sehingga, akan tergambar siswa yang mengalami masalah sosial.
b. Memahami sifat dan jenis masalah sosial
Langkah kedua dari diagnosis masalah sosial ini mencari dalam hubungan apa saja peserta didik mengalami masalah sosial. Dalam hal ini guru pembimbing memperhatikan bagaimana perilaku siswa dalam semua lini pergaulan, baik di sekolah, rumah dan masyarakat.
c. Menetapkan latar belakang masalah sosial
Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi sebab timbulnya masalah sosial yang dialami siswa. Cara ini dilakukan dengan mengamati tingkah laku siswa yang bersangkutan, selanjutnya dilakukan wawancara dengan guru, wali kelas, orang tua dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan informasi yang luas dan jelas.
d. Menetapkan usaha-usaha bantuan
Setelah diketahui sifat dan jenis masalah sosial serta latar belakangnya, maka langkah selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang akan diberikan, berdasarkan data yang diperoleh.
e. Pelaksanaan bantuan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan dilaksanakan secara terus menerus dan terarah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang diperkirakan. Bantuan untuk mengentaskan masalah sosial terutama menekankan akan penerimaan sosial dengan mengurangi hambatan-hambatan yang menjadi latar belakangnya. Pemberian bantuan ini bisa dilakukan melalui layanan konseling kelompok yang memanfaatkan dinamikan kelompok.
f. Tindak lanjut
Tujuan langkah ini ialah untuk menilai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah mencapai bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus menerus, baik selama, maupun sesudah pemberian bantuan. Dengan langkah ini dapat diketahui keberhasilannya.
Dalam bidang bimbingan sosial, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya, yang dilandasi budi pekerti dan tanggung jawab kemasyarakatan dan bernegara. Bidang ini dirinci menjadi pokok-pokok berikut:
a. Pengembangan dan pemantapan kemampuan berkomunikasi baik melalui ragam lisan maupun tulisan secara efektif.
b. Pengembangan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial, baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat dengan menjunjung tinggi tata karma, sopan santun serta nilai-nilai agama, adat, peraturan dan kebiasaan yang berlaku.
c. Pengembangan dan pemantapan hubungan yang dinamis, harmonis, dan produktif dengan teman sebaya, baik di sekolah yang sama, di sekolah lain, di luar sekolah maupun masyarakat pada umumnya.
d. Pengenalan, pemahaman dan pemantapan tentang peraturan, kondisi dan tuntutan sekolah, ruamh dan lingkungan serta upaya dan kesadaran untuk melaksanakannya secara dinamis dan bertanggung jawab.
e. Pemantapan kemampuan menerima dan mengemukakan pendapat serta berargumen secara dinamis, kreatif dan produktif.
Suatu masalah yang sering diangkat mengenai meningkatnya hubungan teman sebaya dengan anak yang ditolak adalah apakah fokus seharusnya pada usaha meningkatkan prososial mereka (dengan empati yagn lebih baik, menjadi pendengar yang lebih baik, dan seterusnya) atau pada usaha menurunkan tingkah laku agresif, tingkah laku mengganggu, dan meningkatkan kontrol terhadap diri sendiri. Selain itu, anak yang ditolak oleh lingkungannya diajarkan mengenai pentingnya memperlihatkan tingkah laku yang dapat memperbesar kemungkinan untuk disukai oleh orang lain.
Oleh karena itu, selain mengajarkan kemampuan prososial yang lebih baik kepada remaja yang ditolak, harus diambil langkah langsung untuk menghilangkan tindakan agresi mereka. Lebih jauh lagi, memperoleh status positif bersama teman sebaya sanagt membutuhkan waktu karena merupakan hal yang sulit bagi teman sebaya untuk mengubah pandangan mereka terhadap seorang remaja yagn selalu terlibat dalam tingkah laku agresif. Selanjutnya kita akan memperhatikan peran kognisi sosial dalam memahami hubungan antar teman sebaya.
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian tentang masalah sosial siswa sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya, diantaranya Desi Sarrawati (2006). Dengan judul hubungan antara penyesuaian diri dengan frustasi (studi pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama negeri 2 kuok-bangkinang barat. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SLTP yang berjumlah 170 orang. Sampel diambil menggunakan teknik clustered randim sampling dengan jumlah 85 orang atau 50% dari populasi. Hasilnya, koefisien korelasi sebesar -0,727 pada tingkat signifikan 1%. Dengan demikian hipotesis diterima yang mana semakin baik tingkat penyesuaian diri siswa maka makin rendah tingkat frustasi.
Penelitian yang lain dilakukan oleh Ade Irma Syafnita (2007) dengan judul hubungan antara dukungan sosial dari guru dengan konsep diri pada siswa SMA Nurul Falah Pekanabru. Populasi penelitian adalah seluruh siswa yang berjumlah 198 orang. Sampel dengan teknik clustered random sampling dengan jumlah 99 orang. Validitas alat ukur penelitian 0.3006-0.6340 diuji dengan teknik korelasi produck moment. Reliabilitas diuji dengan teknik alpa berkisar antara 0.3172-0.5924. hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0.282 dengan taraf signifikan 0.000. dengan demikian, ada hubungan antara dukungan sosial dengan konsep diri siswa.
Sedangkan judul penelitian yang penulis lakukan berjudul “penanganan kasus terhadap siswa yang mengalami masalah sosial (studi kasus di SMA N 12 Pekanbaru).”
C. Konsep Operasional
Seperti yang telah disebutkan diatas, penelitian ini berkenaan dengan penanganan kasus terhadap siswa yang mengalami masalah sosial. Maksudnya bagaimana usaha penanganan yang dilakuakn guru pembimbing terhadap masalah sosial siswa.
Sesuai dengan kajian teoritis diatas, maka penulis merumuskan indikator penanganan kasus dan masalah social adalah sebagai berikut:
1. Indikator penanganan kasus
a. Adanya pengenalan awal tentang kasus, yang dimulai sejak mula kasus itu dihadapkan.
b. Adanya pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung di dalam kasus itu
c. Terjadinya penjelajahan lebih lanjut tentang segala seluk-beluk kasus tersebut, dan akhirnya;
d. Guru pembimbing mengusahakan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan sumber pokok permasalahan itu.
2. Indikator masalah sosial siswa
Berdasarkan kerangka teoritis diatas, maka masalah sosial siswa dapat dikatakan terentaskan apabila:
a. Siswa terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, merugikan atau kurang mampu mengontrol diri.
b. Siswa terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologi, seperti rasionalisasi, agresi, kompensasi dan lainnya.
c. Siswa terhindar dari perasaan prustasi atau perasaan kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhannya.
d. Siswa memiliki pertimbangan dan penghargaan diri yang rasional, yaitu mampu menyelesaikan masalah berdasarkan alternative-alternatif yang telah dipertimbangkan secara matang dan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang diambil.
e. Siswa mampu belajar, mampu mengembangkan kualitas dirinya, khususnya yang berkaitan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah sehari-hari.
f. Siswa mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu, bercermin ke masa lalu baik yang berkaitan dengan keberhasilan maupun kegagalan untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik.
g. Siswa bersikap objektif dan realistik, mampu menerima kenyataan hidup yang dihadapi secara wajar, mampu menghindari, merespon situasi atau masalah secara rasional, tidak didasarkan oleh prasangka negative.

BAB III
METODE PENELITIAN

1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 12 Pekanbaru. Adapun waktu dari penelitian ini adalah setelah Mei sampai September 2011.
2. Objek dan Subjek Penelitian
Objek penelitian ini adalah siswa yang mengalami masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru, sedangkan subjek penelitian ini adalah guru pembimbing dan siswa yang mengalami masalah social. Guru berjumlah 4 orang dan siswa yang bermasalah 3 orang.
3. Pendekatan Penelitian.
Untuk memperoleh data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, disini penulis akan menggunakan pendekatan penelitian kasus (case study). Penelitian kasus ini sendiri adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sungguh-sungguh (intensif) dan terinci serta mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga maupun gejala- gejala tertentu yang terjadi di lapangan. Jika ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian kasus ini meliputi daerah atau subyek yang sangat sempit dan bila ditinjau dari segi sifatnya, penelitian kasus ini lebih mendalam.
Penelitian kasus (case study) ini digunakan penulis dalam meneliti anak yang mengalami masalah sosial di SMA Negeri 12 Pekanbaru. Disini penulis mengambil tiga (3) siswa, karena tiga siswa ini yang mengalami masalah sosial yang peling berat.
Dalam penelitian Studi kasus, langkah-langkah yang tempuh meliputi perencanaan, pengumpulan data, penggunaan dan pengolahan data, sintesa dan interpetasi data, membuat perencanaan pelaksanaan pertolongan, evaluasi dan follow up.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang benar-benar dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan data-data yang terhimpun, maka teknik yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati. Adapun data-data yang penulis ambil dari observasi ini adalah penulis mengobservasi langsung tentang lokasi penelitian, mengobservasi langsung saat guru pembimbing melakukan terapi kepada klien. Disini penulis memperhatikan secara cermat, bagaiman guru pembimbing melakukan terapi yang efektif terhadap klien. Dan penulis juga mengamati secara langsung peserta didik yang mengalami masalah sosial setelah mereka dikonseling oleh guru pembimbing untuk mengetahui seberapa jauh perubahan yang dialami mereka.
b. Wawancara, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada sumber data, dan sumber data juga memberikan jawaban secara lisan pula. Untuk mengambil data dari wawancara ini, penulis bertanya langsung kepada Kepala Sekolah dan Guru Pembimbing tentang gambaran lokasi penelitian dan gambaran bimbingan dan konseling. Sedangkan untuk data-data tentang anak yang mengalami masalah sosial penulis peroleh melalui wawancara dengan guru pembimbing itu sendiri dan beberapa siswa.
c. Dokumentasi, dari asal katanya, yang artinya barang-barang tertulis. Untuk dokumentasi ini penulis mengambil data-data dari guru pembimbing mengenai program kerja bimbingan dan konseling yang berkaitan dengan pelaksanaan pelayanan terhadap anak yang mengalami masalah sosial.
5. Teknik Analisa Data
Untuk memperoleh pembahasan yang baik dan terarah, maka data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penulis menggunakan analisis deskriptif kulaitatif ini karena dalam penalitian ini menggunakan penelitian kasus yang mana data yang dikumpulkan hanya sedikit, bersifat monografis atau yang berupa kasus-kasus, sehingga tidak dapat disusun kedalam suatu struktur klasifikatoris. Analisis kualitatif pada dasarnya menggunakan pemikiran logis, analisa dengan logika, dengan induksi, deduksi, analogi komparasi dan sejenisnya.
Dari analisis data yang bersifat deskriptif kualitatif ini, kemudian penulis menggunakan metode induktif sebagai analisis akhir dalam penelitian ini. Metode induktif tidak berpangkal penolakan dari kebenaran umum, tetapi dari observasi hal-hal khusus untuk kemudian dilakukan generalisasi, yang mana generalisasi induktif ini sering bersifat kompleks.

Daftar Referensi
Ahmad Juntika Nurihsan, 2005, Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Aditama,
Depdiknas.2008. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Dewa Ketut Sukardi, 2008. Pengantar Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Prayitno dan Erman Amti, 2006, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta.
Santrock, J. W. 2003, Adolescence Perkembangan Remaja, Jakarta: Erlangga.
Sofyan S. Willis, 2008, Remaja & Masalahnya; mengupas berbagai bentuk kenakalan remaja narkoba, free sex dan pemecahannya, Bandung: Alfabeta.
Suharsini Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik , Jakarta: Rineka Cipta.
Suhertina, 2008, Pengantar Bimbingan dan Konseling di sekolah, Pekanbaru:Suska Press.
Soerdjjono Soekanto, 2001, Sosiologi Suatu Pengantar,Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Syamsu Yusuf dan Ahmad Juntika Nurihsan, 2010, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tohirin, 2005, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Wayan Nurkanca, 1993, Pemahaman Individu, Surabaya: Usaha Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: